Dekadensi Kesadaran Pendidikan Mahasiswa: Membangun Kembali Pendidikan Sebagai Pilar Transformasi Sosial

 


Foto bersama usai kegiatan
Foto bersama usai kegiatan (doc Naysila Shevi Puwaningrum)

Bidang Hikmah PK IMM Jenderal Soedirman bersama PK IMM Alfaruqi menggelar kajian hikmah pada Kamis (16/04) di samping Audit Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini mengusung tema “Dekadensi Kesadaran Pendidikan Mahasiswa dalam Membangun Kembali Pendidikan sebagai Pilar Transformasi Sosial” dengan menghadirkan narasumber Immawan M. Yusuf Tsaqif As’ad, S.Pd.

Dalam pemaparannya, narasumber terlebih dahulu menjelaskan lima fungsi utama mahasiswa, yaitu sebagai agent of change (agen perubahan) yang membawa ide dan solusi bagi masyarakat, social control (kontrol sosial) yang mengawasi kebijakan agar tetap adil, iron stock sebagai cadangan pemimpin masa depan, moral force sebagai kekuatan moral yang menjaga etika dan integritas, serta guardian of value sebagai penjaga nilai-nilai sosial dan budaya. Kelima fungsi ini menjadi dasar penting dalam membangun kesadaran mahasiswa terhadap perannya di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, narasumber menekankan pentingnya membangun kesadaran pendidikan mahasiswa melalui kebiasaan membaca yang mendalam, terstruktur, dan reflektif. Ia menjelaskan bahwa proses membaca tidak cukup dilakukan secara cepat atau sekadar menyelesaikan materi, tetapi harus disertai dengan pemahaman yang berkelanjutan.
“Mahasiswa perlu membaca dari awal hingga akhir dengan fokus, kemudian menuliskan kembali hasil bacaannya menggunakan bahasa sendiri. Hal ini penting untuk memperkuat ingatan dan pemahaman,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa diskusi setelah membaca menjadi bagian penting dalam menguji sekaligus memperdalam pemahaman. Menurutnya, kebiasaan membaca, menulis, dan berdiskusi secara rutin dapat meningkatkan kualitas akademik mahasiswa serta mengurangi ketergantungan pada metode instan seperti mengandalkan foto atau rekaman saat presentasi.

Selain itu, narasumber menyoroti fenomena kemerosotan moral dan akademik mahasiswa yang dinilai sebagai akibat dari berbagai faktor. Ia menjelaskan bahwa secara internal, mahasiswa kerap terjebak pada pola pikir instan, seperti menyelesaikan tugas hanya untuk memenuhi tenggat waktu tanpa melalui proses riset yang mendalam.

Dari sisi lingkungan sosial, pergaulan yang kurang produktif turut memengaruhi perilaku mahasiswa. Kebiasaan yang tidak mendukung proses belajar, seperti minimnya budaya diskusi dan literasi, menjadi salah satu penyebab melemahnya kualitas akademik. Sementara itu, dari sisi sistem pendidikan, kelas dengan jumlah mahasiswa yang besar dinilai menghambat interaksi dan pembentukan pola pikir kritis.
“Kelas yang terlalu besar membuat mahasiswa sulit fokus dan berpartisipasi aktif. Ditambah lagi, sistem pendidikan yang lebih mengejar kuantitas dibanding kualitas turut memperparah kondisi ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, faktor keluarga dan kondisi ekonomi juga menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Ketidaksesuaian antara harapan keluarga dan keinginan mahasiswa dalam melanjutkan pendidikan seringkali menimbulkan tekanan tersendiri.

Dalam sesi diskusi, beberapa peserta turut mengajukan pertanyaan. Immawati Husna menanyakan cara mempertahankan ingatan terhadap materi bacaan agar mudah digunakan saat presentasi. Menanggapi hal tersebut, narasumber menekankan pentingnya membaca secara aktif, melakukan parafrase, serta melatih kemampuan mengingat melalui metode recall dan diskusi.

Selanjutnya, Immawan Rendi mengajukan pertanyaan terkait faktor utama penyebab kemerosotan moral dan akademik mahasiswa. Narasumber menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan hasil dari kombinasi faktor internal, lingkungan sosial, sistem pendidikan, serta dukungan keluarga.

Sementara itu, Immawan Hasbi menanyakan cara mengubah pola pikir mahasiswa dari orientasi kerja menuju pembelajaran kritis. Menanggapi hal tersebut, narasumber menegaskan bahwa orientasi kerja tidak perlu dihilangkan, namun harus diimbangi dengan kesadaran intelektual. “Kuliah bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi untuk membentuk cara berpikir yang kritis dan reflektif,” ungkapnya.

    Kegiatan ini dihadiri oleh 15 Immawan dan berlangsung secara interaktif. Melalui kajian ini, diharapkan mahasiswa mampu meningkatkan kesadaran akan perannya sebagai agen perubahan serta berkontribusi dalam membangun pendidikan yang lebih berkualitas sebagai pilar transformasi sosial.

Redaksi






Posting Komentar

0 Komentar