Kajian HPT: Sholat Sebagai Tolak Ukur Amal


Foto bersama pasca kegiatan kajian HPT Bab Sholat (doc. Medkom/PK IMM Jenderal Soedirman)

Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman (TKK) Pimpinan Komisariat IMM Jenderal Soedirman menyelenggarakan Kajian Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Bab Sholat, dengan menghadirkan Fachriza Luqman, S.Tr.Kep sebagai pemateri, Selasa (30/9).

Kegiatan yang digelar di samping Auditorium kampus 3 UIN Walisongo ini merupakan lanjutan dari kajian bertema serupa yang telah terselenggara pada tanggal 23 Mei 2025.

Fachriza membuka dengan mengingatkan bahwa sholat adalah amalan pertama yang akan diperiksa pada hari kiamat, sehingga kualitas sholat menentukan penilaian terhadap amalan lainnya.

"Kalau sholatnya bagus, semuanya dihitung bagus," ujarnya.

Kajian berlangsung dengan pembahasan tata cara shalat secara rinci, meliputi bacaan, gerakan, doa, dan dzikir setelah shalat. Pemateri juga mengupas mengenai ketentuan shaf, posisi imam, serta perbedaan pandangan antara Imam mazhab.

Salah satu poin sorotan dalam Muhammadiyah adalah suara kala membaca ayat pertama Surat Al-Fatihah, yang penting untuk dipahami demi terpenuhinya rukun sholat.

"Kalau teman-teman membaca dari Alhamdulillah, kehilangan satu ayat. Nah, hati-hati sholatnya tidak memenuhi rukun sholat. Baca dari Bismillah, siir nggakpapa, jahr nggakpapa. Di kitab (HPT) yang ketiga, keduanya disebutkan dalilnya."

Selain sesi paparan dan diskusi, para peserta juga diminta melakukan rukuk, untuk mempraktikkan posisi rukuk yang benar sesuai tuntunan.

Kegiatan diikuti oleh 25 peserta dari berbagai Fakultas, bidang TKK merencanakan kelanjutan kajian untuk membahas HPT Bab berikutnya.

Redaksi


Posting Komentar

0 Komentar