Berdayakan Perempuan, PK IMM Jenderal Soedirman Gelar Kajian "Women Empowerment"
![]() |
| Foto bersama Pasca Acara (doc. Aida Bendum Korkom IMM UIN Walisongo ) |
Semarang – PK IMM Jenderal Soedirman sukses menyelenggarakan Kajian IMMAWATI dengan tema inspiratif “Women Empowerment: Berani Memimpin, Berani Bersuara” pada Rabu, 13 Mei 2026. Bertempat di samping Audit Kampus 3, kegiatan ini menghadirkan Nur Iffatul Ainiyah, S.E. (Sekretaris PC IMM Semarang) sebagai pemateri utama. Dipandu oleh Aulia Husna selaku Kabid IMMAWATI PK IMM Jenderal Soedirman, diskusi ini menyoroti berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan dalam ruang publik.
Dalam pemaparannya, Nur Iffatul Ainiyah menekankan bahwa ketakutan perempuan untuk bersuara sering kali berakar pada rasa takut akan penghakiman (judge) dan anggapan aneh dari lingkungan. Beliau juga menyoroti kuatnya budaya patriarki yang cenderung mengesampingkan peran perempuan dalam kepemimpinan.
"Perempuan sangat bisa menjadi pemimpin hebat, contoh nyatanya adalah Bunda Khadijah yang memimpin dalam urusan muamalah," tegas pemateri dalam diskusi tersebut.
Kegiatan kajian yang diselenggarakan oleh PK IMM Jenderal Soedirman berlangsung dengan penuh antusiasme dan menghadirkan suasana diskusi yang hangat serta inspiratif. Kajian ini tidak hanya diikuti oleh peserta perempuan, tetapi juga dihadiri oleh peserta laki-laki yang turut aktif mengikuti jalannya diskusi. Kehadiran laki-laki dalam kajian ini menunjukkan bahwa isu keberanian perempuan untuk bersuara, kesetaraan hak, serta pentingnya menciptakan ruang aman bukan hanya menjadi tanggung jawab perempuan semata, melainkan persoalan bersama yang membutuhkan dukungan dari semua pihak. Hal tersebut juga mencerminkan adanya kepedulian dan kesadaran bersama untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif, aman, dan saling menghargai. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak untuk memahami pentingnya keberanian dalam menyampaikan pendapat, khususnya bagi perempuan, melalui pembangunan kepercayaan diri (self-confidence) secara bertahap. Pemateri menekankan bahwa keberanian untuk speak up tidak hadir begitu saja, melainkan perlu dibangun melalui persiapan yang matang. Peserta didorong untuk menyiapkan apa yang ingin disampaikan sebelum berbicara agar lebih percaya diri dan terarah. Selain itu, peserta juga diingatkan bahwa motivasi tanpa tindakan nyata hanyalah sekadar wacana, sehingga keberanian harus diwujudkan dalam aksi nyata di kehidupan sehari-hari.
Dalam kajian tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya edukasi hak, bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapat dan didengar suaranya. Materi ini menjadi ruang refleksi bersama agar perempuan tidak merasa takut atau ragu dalam menyuarakan pemikiran, pengalaman, maupun keresahan yang mereka alami.
Diskusi kemudian berkembang pada isu sensitif mengenai pelecehan seksual. Pemateri menegaskan pentingnya menciptakan ruang aman bagi korban untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi. Peserta diajak untuk menjadi pendengar yang baik dengan tidak melakukan victim blaming atau menyalahkan korban atas peristiwa yang dialaminya. Dukungan, kepercayaan, dan apresiasi terhadap keberanian korban dalam menyampaikan pengalaman menjadi hal penting dalam membangun lingkungan yang aman dan suportif bagi perempuan.
Kegiatan berlangsung semakin interaktif melalui sesi tanya jawab, di mana para peserta aktif menyampaikan pandangan serta pertanyaan terkait materi yang dibahas. Sebagai penutup, Aulia Husna menyampaikan kesimpulan bahwa seorang pemimpin sejati bukanlah sosok yang hanya mampu mengontrol, melainkan mampu memberdayakan dan memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang. Kegiatan kemudian ditutup secara simbolis melalui penyerahan sertifikat kepada pemateri sebagai bentuk apresiasi, dilanjutkan dengan pembagian konsumsi kepada seluruh peserta yang hadir.
Redaksi

0 Komentar
Tinggalkan jejakmu untuk kami~