HARI BURUH, SEBUAH PESTA ATAU IRONI?

 

HARI BURUH, SEBUAH PESTA ATAU IRONI?

Ilustrasi hari buruh (doc.Kompas.id)


1.      Tangisan bisu dibalik pesta.

Tanggal 1 mei, jalanan dipenuhi oleh buruh Kisah mereka yang tak pernah benar benar merdeka. Mungkin ada sebagian yang merayakan dengan pesta dan konser besar. Namun disudut sudut pabrik dan kontrakan yang sempit, ada kesunyian yang menyayat hati.

Dibalik angka-angka pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan, ada nafas nafas lelah dari manusia manusia yang sedang berjuang melawan keputusasaan yang tak kunjung usai.

2.      Kiamat kecil bernama PHK

Kenyataan dilapangan sangat memilukan. Sepanjang tahun 2024, data menunjukan lebih dari 12.000 pekerja pabrik sepatu dan tekstil tiba tiba dirumahkan. Penderitaan itu belum usai, bahkan berlanjut ditahun 2025 yang dimana hampir 10.000 buruh kembali lagi dan lagi kehilangan sebuah pekerjaan. Mereka dibuang begitu saja bak sampah. Dalam satu malam, tiang penopang ribuah keluarga runtuh tak tersisa.

3.      Gaji yang tak pernah cukup

Sistem hari ini sering sekali menekan upah mininum (UMR) serendah rendahnya murni hanya agar perusahaan untung besar. Islam menggugat ini dengan konsep kifayah (kecukupan yang layak).

Gaji seorang pekerja tidak boleh hanya dihitung sekedar “agar ia tidak mati kelaparan”. Gaji yang adil menurut islam harus mampu menjamin martabat manusia artinya cukup untuk makanan yang layak untuk keluarganya, pendidikan anak-anaknya, kesehatan, hingga tabungan.

Mengutip narasi wiji thukul yang sangat jujur dan tanpa hiasan “Besok pagi kita ke pabrik. Kembali bekerja, sarapan nasi bungkus, dan ngutang seperti biasa”. Kalimat yang dikeluarkan memang sederhana, tetapi justru disitulah pointnya. Dalam sudut pandang sosial, gambaran ini menunjukan lingkaran yang suit diputus. Banyak orang bekerja hanya untuk bertahan dan bertahan, tidak cukup untuk benar benar keluar dari kondisi yang sama.

4.      Menelan lapar demi bisa bernapas

Realitas yang terjadi untuk menutupi kekurangan gaji yang sangat besar itu, hal pertama yang dikorbankan adalah makanan. Sebuah kemutlakan yang terjadi.

Data mencatat: anggaran buruh untuk membeli daging dan ikan sangatlah kecil, hanya sekitar 2 hingga 4 persen dari uan mereka. Mereka tak mampu membeli protein yang baik. Sistem inilah yang secara diam diam sedang menghukum anak anak mereka yang terancam kekurangan gizi (stunting) dan kehilangan kecerdasannya.

 

Saat hari buruh hadir, mari kita tundukan kepala sejenak. Berhenti melihat mereka sebagai pekerja saja. Akan tetapi lihatlah mereka sebagai manusia yang cintanya pada keluarga jauh lebih besar dari lelahnya.       


lustrasi hari buruh (doc.Youtube.com)



”Tak ada yang lebih puitis dari seorang buruh yang memberikan seluruh gajinya demi bisa menghidupi keluarga kecilnya”

-Selamat Hari Buruh-



Redaksi                                                                                                                                                    

Posting Komentar

0 Komentar