Sihir, Khodam, dan Ketergantungan pada selain Allah: bagaimana seorang muslim menyikapinya?

Oleh : Nazmi

Ilustrasi manusia bersama jin (doc. Jatimtimes.com) 

Sejak masa awal peradaban manusia, ketika ilmu pengetahuan belum berkembang pesat, manusia sering dihadapkan pada berbagai fenomena yang sulit dijelaskan oleh akal. Penyakit yang datang tiba-tiba, musibah yang silih berganti, hingga keberuntungan yang tak terduga, mendorong manusia mencari penjelasan di luar batas logika. Dari sinilah muncul kepercayaan terhadap kekuatan gaib, termasuk sihir dan makhluk tak kasat mata yang diyakini mampu memengaruhi kehidupan.

Seiring waktu, kepercayaan tersebut tidak berhenti pada sekadar keyakinan, tetapi berkembang menjadi praktik yang lebih terstruktur. Sebagian orang mulai meyakini adanya perantara seperti khodam atau makhluk pendamping yang dianggap mampu memberikan perlindungan, kekuatan, bahkan kemudahan dalam urusan duniawi. Ketergantungan ini perlahan membentuk pola pikir bahwa keselamatan dan keberhasilan tidak lagi semata berasal dari Tuhan, melainkan juga dari “bantuan” makhluk gaib.

Padahal, dalam pandangan Islam, kecenderungan ini merupakan penyimpangan dan fitrah tauhid, yaitu mengesakan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung.

Ilustrasi seorang muslim (doc. Pew research) 

Sikap Seorang Muslim terhadap Sihir, Khodam, dan Hal Gaib

Seorang muslim dituntut memiliki keimanan yang lurus, termasuk dalam menyikapi hal-hal gaib. Islam tidak menafikan keberadaan dunia gaib, tetapi memberikan batasan yang jelas bahwa seluruh kekuatan dan kekuasaan hanya berada di tangan Allah semata.

Ketika seseorang mulai menggantungkan harapan kepada jimat, khodam, atau praktik sihir, maka di situlah letak permasalahan. Ketergantungan tersebut dapat menggeser keyakinan dari tauhid menuju kesyirikan, baik disadari maupun tidak.

Allah telah mengajarkan cara meminta perlindungan yang benar dalam Al-Qur’an:

Surat An-Nas ayat 1–3

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ۝١

مَلِكِ النَّاسِۙ ۝٢

اِلٰهِ النَّاسِۙ ۝٣

Artinya:

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia,

Raja manusia,

Sesembahan manusia.”

Ayat ini menegaskan bahwa seorang muslim hanya memohon perlindungan kepada Allah, bukan kepada makhluk, benda, ataupun kekuatan gaib lainnya.

Di ayat yang lain Allah menegaskan bahwa

وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ۝٤

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ۝٥

Artinya:

“Dan dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

Ayat ini menunjukkan bahwa sihir memang ada, tetapi perlindungan dari segala kejahatan hanya berasal dari Allah.

Mengapa seorang muslim tidak boleh bergantung selain kepada Allah?

Karena Allah adalah Tuhan yang mengatur seluruh alam semesta.

Karena Allah adalah satu-satunya tempat berlindung.

Karena tidak ada makhluk yang memiliki kekuatan melebihi-Nya.

Bergantung pada selain Allah berarti meletakkan harapan pada sesuatu yang lemah dan terbatas. Sebaliknya, Allah adalah Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Melindungi. Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk selalu berdoa, berzikir, dan bertawakal hanya kepada-Nya.


Ilustrasi seorang muslim bermusyawarah (doc. Majelis.info) 


Bagaimana Berdakwah kepada Orang yang Masih Mempercayai Hal Tersebut?

Dalam menghadapi masyarakat yang masih mempercayai sihir, khodam, atau praktik serupa, seorang muslim tidak boleh bersikap kasar atau merendahkan. Dakwah harus dilakukan dengan bil hikmah (kebijaksanaan) dan kelembutan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1. Mendengarkan terlebih dahulu tanpa langsung menyalahkan.

2. Memberikan pemahaman logis secara perlahan bahwa makhluk tidak memiliki kuasa tanpa izin Allah.

3. Menjelaskan bahwa kehidupan, kematian, kesehatan, dan keselamatan hanya berasal dari Allah.

4. Menunjukkan alternatif yang benar seperti doa, dzikir, dan tawakal.

Kesimpulan

Kepercayaan terhadap sihir, khodam, dan kekuatan gaib merupakan bagian dari perjalanan panjang manusia dalam memahami dunia. Namun, Islam hadir untuk meluruskan pemahaman tersebut dengan menegaskan bahwa segala bentuk perlindungan dan pertolongan hanya berasal dari Allah.

Seorang muslim dituntut untuk menjaga kemurnian tauhid dengan tidak menggantungkan diri pada selain-Nya. Dalam menghadapi fenomena ini di masyarakat, dakwah harus dilakukan secara bijak agar kebenaran dapat diterima tanpa menimbulkan penolakan.

Pada akhirnya, kekuatan sejati bukan terletak pada jimat atau makhluk gaib, melainkan pada keyakinan yang kokoh kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Redaksi


Posting Komentar

0 Komentar